Our Feeds

Motto

Etik, Estetik, Puitik

Selamat Mengaji

Mengaji Sepanjang Hari

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2019

Syakir NF

Mengunjungi Kenangan Islam di Era Modern Abad 20


Liburan, orang-orang berkunjung ke tempat wisata. Ada pula yang melihat-lihat pameran. Apalah daya saya seorang penganggur sekaligus bagian dari jomblowers yang hanya mampu ziarah kenangan.

Islam in Modern History merupakan salah satu karya Wilfred. Putra Cantwell dan Smith ini mengupas Islam secara khusus di Arab, Turki, India, dan Pakistan. Ia menulis tentang krisis Islam di Arab dengan kebanggaan bangsanya akan kehormatan dan kesensitivannya. Tentang Turki, ia membahas reformasi Islam. Pakistan dibahas mengenai kenegaraannya. Adapun India dibahas tentang kekusutan Islam di sana.

Indonesia juga tak lepas dari pembahasannya dalam buku ini. Intelektual kelahiran Toronto, Kanada itu mengupas nasionalisme dan Islam. Tetapi ia tak membahasnya secara mendalam seperti keempat negara di atas. Tentu saja NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dan akhirat disebut olehnya dalam buku tersebut.

Entah kenapa Wilfred tidak membahas Indonesia secara mendalam. Padahal, negara Zamrud Khatulistiwa itu memiliki penduduk dengan jumlah Muslim terbesar di dunia. Hubungan nasionalisme dan Islam juga menjadi hal unik di negara ini. Tentu berbeda dengan negara-negara lainnya, hatta Timur Tengah sendiri.

Pendiri institut studi Islam di Universitas Mc Gill, Kanada, itu juga sedikit memberi keterangan tentang Islam di belahan negara lain, seperti Soviet, Tiongkok, dan lainnya.

Perubahan demi perubahan mengenai perkembangan Islam terus terjadi di berbagai belahan dunia. Namun, hal itu tentu tak bisa lepas dari sejarah yang pernah ada. Uighur di Tiongkok, misalnya, yang beberapa waktu lalu sempat diisukan bergolak. Belum lagi, permasalahan yang melanda Timur Tengah akibat adanya Musim Semi Arab, upaya demokratisasi negara-negara yang sejak dulu berbentuk kerajaan itu.

Membaca Islam yang berada di negara-negara yang di atas hari ini, perlu juga untuk lebih dulu mengetahui Islam di masa pertengahan abad 20 itu seperti apa. Buku inilah yang sedikit membuka pintu cakrawala di sana.

Wilfred sendiri merupakan akademisi yang cukup fenomenal. Ia pernah menyatakan, bahwa Islam bukanlah lembaga. Hal tersebut bisa dilihat dari kata "Islam" sendiri. Hal ini pernah saya dengar juga dari Cak Nun. Kiai Leles, begitu KH Yahya Cholil Staquf menyebutnya, kelahiran Jombang itu pernah menyatakan, bahwa ukhuwah Islamiyah bukanlah saudara sesama orang yang beragama Islam, tetapi saudara sesama orang yang menyelamatkan, mensejahterakan. Wallahu a'lam.

Bagi penganggur dan jomblowers, tak usah panik jumpa hari liburan. Ziarahi saja kenangan. Di sana, mungkin kau 'kan jumpa masa depan.

Peresensi Syakir NF, jomblowers yang suka melihat kenangan

Identitas Buku
Penulis   : Wilfred Cantwell Smith
Penerbit : Princeton University Press
Tahun    : 1961 Cet. Kedua
Tebal     : 319 halaman

Kamis, 10 Januari 2019

Syakir NF

Bergembira dengan Para Bajingan

Sumber: Bukalapak


Mendengar kata ‘bajingan’, benak saya sendiri langsung memvisualisasikan sosok yang menyeramkan, seseorang yang bertubuh tinggi nan gempal, di beberapa bagian tubuhnya terdapat tato, dan matanya yang merah. Selain itu, bajingan juga bersikap bengis nan sadis.

Istilah ‘bajingan’ berasal dari kata bajing, salah satu jenis hewan, yang diberi imbuhan –an di akhirnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan istilah tersebut sebagai penjahat atau pencopet. Makna lainnya sebagai kata sifat, bajingan merupakan kata makian untuk mereferensikan kurang ajar.  Namun, gambaran demikian tidak sepenuhnya terbaca dalam buku Para Bajingan yang Menyenangkan.

Memang, para tokoh itu melakukan berbagai kejahatan, seperti berjudi, minum-minuman beralkohol, hingga mengeroyok orang. Belum lagi melakukan hal-hal yang dilarang agama, seperti tidak berpuasa Ramadan dan makan babi. Namun, hal itu diiringi tingkah lakunya yang juga jenaka sehingga mampu membuat pembaca terpingkal-pingkal.

Bagor, salah satu dari para bajingan itu, misalnya, yang diberangkatkan kuliah lagi di Amerika oleh perusahaan tempat dia bekerja. Di negeri Paman Sam itu, ia kerap kali dipalak oleh sekelompok preman setempat, meskipun dia juga bajingan. Namun, mereka tidak lagi memalaknya pascamelihat dan mendengar penjelasannya tentang kaos yang ia kenakan.

Saat itu, Bagor mengenakan kaos yang bergambar ikan berkepala anjing bertuliskan iwak asu. Iwak dalam bahasa Jawa berarti daging atau ikan, sedang asu berarti anjing. Jadi kaos itu sengaja dibuat oleh sebuah komunitas yang sebenarnya menolak memakan daging anjing. Tapi ia menjelaskan sebaliknya kepada para preman yang penasaran dan bertanya tentang jenis hewan yang ada di kaosnya itu. Sontak para preman itu ketakutan karena mengira Bagor seorang psikopat.

Selain itu, kekocakan mereka yang lain itu saat berada di suatu toko kaset bilang ingin membeli kaset grup band Manchester United. Padahal, nama yang ia sebut itu merupakan grup sepak bola dari Inggris.

Puthut EA berhasil mengolah cerita yang mestinya tegang itu menjadi sebaliknya, sangat cair. Saya sendiri membaca ini di bus saat pulang dari kantor dan KRL menuju kantor membuat tertawa-tawa sendirian. Sayangnya karena di area publik jadi tak bisa lepas. Mulut aja terbuka lebar karena tak sanggup menahannya. Hanya suaranya saja saya tahan supaya tidak mengganggu para penumpang yang lain.

Membaca Para Bajingan yang Menyenangkan membuat kita senang. Setidaknya, buku itu dapat melepas kita dari penat dan nikmat untuk dibawa jalan-jalan jika kita naik kendaraan karena tidak terlalu tebal sehingga dalam keadaan berdiri di mobil atau kereta saat menuju dan pulang dari kantor itu masih bisa kita nikmati.

Syakir NF, salah satu pengikut Instagram @Puthutea

Identitas Buku
Judul               : Para Bajingan yang Menyenangkan
Penulis             : Puthut EA
Penerbit           : Buku Mojok
Cetakan           : I, Desember 2016
Tebal               : 178 halaman
ISBN               : 978-602-1318-44-7

Selasa, 22 Agustus 2017

Syakir NF

Transformasi Ayat-ayat Al-Quran dalam Pemikiran Bung Karno

Sumber: liputan1.com
Seperti Samudra, Bung Karno tak pernah habis dikuras keilmuannya. Pemikirannya sangat dalam dan luas. Tuduhan berlawanan dari musuhnya selalu dilayangkan. Bagi orang Islamis, ia dituduh komunis. Pun sebaliknya. Keinginannya untuk dapat merangkul semua membuatnya harus menerima berbagai tuduhan tersebut.
Tapi Bung Karno terlalu besar untuk hanya disebut sebagai A atau B. Rasanya, gelar kehormatan atau sebutan dari satu sisi saja itu tak cukup mewakili kapabilitas seorang Presiden Pertama Indonesia itu.
Pria yang lahir pada 1901 itu begitu mengkhidmati agama yang dianutnya. Orang-orang lebih mengenalnya sebagai orang nasionalis. Padahal ia juga sangat relijius.
Adalah Mochamad Nurul Arifin, Wakil Bupati Trenggalek yang mengungkap sisi lain Bung Karno. Ia menghadirkan kisah-kisah yang mencengangkan. Tentu cerita tersebut jarang disebut oleh penulis lainnya. Hal ini menjadi satu sisi kelebihan atas bukunya yang berjudul "Bung karno 'Menerjemahkan' Al-Quran" itu.
Seperti apa yang dianjurkan Bung Karno, penulis rupanya melakukan ijtihad terhadap pemikiran a pemikiran sosok yang ia kagumi.
Bung Karno menentang pendapat ulama bahwa pintu jihad sudah tertutup. Ia malah ingin mendobrak pintu itu. Kemajuan Islam, menurutnya, didorong dari kemajuan berpikir para penganutnya.
Ijtihad penulis dalam bukunya ini adalah menghubungkan benang merah antara pemikiran Bung Karno dengan Al-Quran sebagai sumber utama pedoman muslim dalam menjalani kehidupannya. Hasilnya cukup menarik untuk disimak. Setidaknya, ada dua bentuk 'terjemahan' yang dilakukan Bung Karno. Pertama, terjemahan secara langsung. Artinya, Bung Karno menerjemahkan dan menafsirkan langsung ayat Al-Quran. Hal ini terjadi saat ia menyampaikan pidato pada sidang PBB pada 30 September 1960. Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 11 ia kutip sebagai bagian dari pidatonya. Ia pun menyampaikan bahwa di Indonesia hidup berbagai macam suku budaya dan bahasa. Kesemuanya rukun dan damai.
Kedua 'terjemahan' tidak langsung. Penulis menghubungkan ayat Al-Quran yang sejalan dengan tindakan dan pemikiran Bung Karno. Ada makna ayat yang sudah bertransformasi dalam laku dan pemikiran. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan ketidaktahuan Bung Karno terhadap ayat tersebut. Atau kemungkinan kedua, Bung Karno mengetahui tetapi tidak ia ungkapkan.
Hal tersebut dapat kita lihat pada 'Berdikari dalam Ekonomi'. Penulis menghubungkan hasil ijtihad Bung Karno itu dengan Al-Quran surat Al-Balad.

Titik Temu Bung Karno dan Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat Islam memiliki andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pun setelahnya, NU terus bergerak mempertahankan kemerdekaan itu. Hal tersebut dilakukan guna menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal adalah salah satu bukti Nahdlatul Ulama dalam menjaga persatuan NKRI. Ini pula yang menjadi bukti bahwa NU tidak menegaskan nasionalisme. Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari berhasil menyintesakan dua kutub yang sempat berseberangan. Islam dan Nasionalisme bersatu melahirkan Indonesia.
Sukarno sebagai nasionalis pun tidak menegasikan Islam sebagai sesuatu yang mendukung lahirnya Indonesia. Sebagai suatu bukti, Sukarno pernah mengutip Al-Quran surat Ali Imran ayat 102, "wa lama tafarraquu", jangan berpisah-pisah. Tafsiran yang disampaikan Bung Karno dikontekstualisasikan di Indonesia. Negara yang luasnya dari Sabang sampai Merauke itu sangat beragam suku, bahasa, dan agamanya. Mafhum mukhalafah dari jangan terpisah-pisah itu tentu saja harus bersatu.
Penyatuan Islam dan nasionalisme menjadi titik temu Bung Karno dan Nahdlatul Ulama. Keduanya sepakat bahwa dua kutub itu tidak bisa dipisahkan. Meskipun berbeda, tetapi keduanya menghasilkan simbiosis mutualisme.
Penulis secara cermat menghubungkan Al-Quran dengan pemikiran dan tindakan Bung Karno. Buku ini menjadi jawaban terhadap orang-orang yang menuduh Sukarno sebagai orang yang tidak relijius atau bahkan tidak pro terhadap Islam.

Judul: Bung Karno 'Menerjemahkan' Al-Quran
Penulis: Mochamad Nur Arifin
Penerbit: Mizan
Cetak: 1, Mei 2017
Tebal: xix+272
Syakirnf

Senin, 11 Juli 2016

Syakir NF

Dendam dan Cinta Bersatu untuk Indonesia



Dendam. Setidaknya, itulah modal utama keberanian yang ditanamkan bocah umur belasan itu pada diri Larasati. Kalau sudah dendam, ketakutan akan hilang dengan sendirinya tertutupi dengan keberanian yang berkobar demi dendam yang harus dituntaskan. Dendam karena para penjajah itu tetiba menjadikan dirinya sebagai malaikat Izrail, bahkan melebihinya, dengan menghabisi pribumi seenaknya. Tak hanya itu, mereka juga dengan mudahnya membumihanguskan kampung-kampung. Selain dendam, kecintaan terhadap republik juga menjadi faktor keberanian mereka dalam melawan para penjajah yang bersenjata lengkap tersebut. Dua hal itu, dendam dan cinta republik, yang menonjol dalam novel Larasati karya Pramoedya Ananta Toer.

Dua hal tersebut juga yang muncul dalam novel lainnya, yakni Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Jika Larasati berceritakan peperangan zaman Revolusi, novel yang kedua ini menceritakan peristiwa pemberontakan DI di wilayah Banten Selatan. Dendam Ranta pada Juragan yang selalu menyuruhnya mencuri terbalaskan dengan melaporkannya pada komandan. Bukan laporan tentang perintah mencurinya, tetapi kopor yang ia sendiri tidak tahu isinya. Kopor yang tak sengaja tertinggal di rumahnya itu ia bawa ke komandan tanpa membuka sebelumnya. Kopor yang ternyata isinya surat-surat DI itu mengantarkan komandan dan pasukannya mengepung rumah juragan.

Sebelum pasukan tentara itu tiba, ia sendiri sudah merasa gelisah dan mengajak serta istrinya untuk segera ikut ke hutan, bergerilya dengan kawan-kawannya. Istrinya terperanjat dengan ajakan itu dan ia pun baru mengetahui kalau suaminya ternyata anggota DI, bahkan residennya. Komandan langsung menyelidik dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Dua kali terdengar kode dari anak buahnya yang kemudian itu menjadi dua bukti yang menguatkan temuan Ranta. Kode tersebut menjadi tanda datangnya orang atau kelompok. Kode pertama kedatangan lurah yang melaporkan kepada residen bahwa komandan tentara sedang tidak ada sehingga ia mengusulkan untuk melakukan penyerangan saat itu juga. Kode kedua menjadi tanda datangnya kelompok yang ternyata kelompok yang dipimpin Hasan itu adalah kelompok yang disuruh juragan untuk membunuh Ranta. Akhirnya mereka dibawa para tentara itu.

Kecintaan Ranta dan warga lain terhadap tanah air itu terbukti dengan tidak bergabungnya mereka dengan DI dan Ranta menerima mandat dari komandan untuk menjadi lurah dan beberapa warga lain menjadi RT. Persatuan yang didengungkan oleh Ranta menjadi satu semangat lebih sehingga mampu menghentikan serangan DI berikutnya dan bahkan membangun kampungnya lebih baik lagi dengan berdirinya sekolah dan bendungan.

Kedua novel tersebut mengisahkan peristiwa peperangan yang terjadi dengan sangat rinci sehingga pembaca dapat merasakan kengerian dan dapat memacu jantung pembaca berdegup lebih cepat, terutama pada cerita Larasati ikut berperang dengan Martabat dan bocah belasan tahun yang sudah dianggap sebagai pimpinan pemuda kampung ibunya itu dalam novel Larasati dan cerita penyerangan DI setelah juragan tertangkap dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan.

Mbah Pram sangat piawai menentukan sikap setiap tokohnya. Larasati dan Ranta sama-sama berani melewati ancaman yang sangat berbahaya, Larasati dengan ancaman komandan Nica dan orang Arabnya dan Ranta dengan ancaman pembunuhan Hasan yang disuruh juragan. Demi dendam yang terbalaskan dan lebih dari itu, demi tegaknya kemerdekaan negara Indonesia, mereka rela menantang maut yang jelas-jelas berada di depan mata.

Membaca keduanya tentu akan meningkatkan kecintaan kita terhadap negeri yang lahir dari aliran sungai darah dan air mata yang bertemu dalam samudera cinta bernama Indonesia. Indonesia bukan negeri yang lahir tanpa perjuangan. Maka marilah kita lanjutkan perjuangan para pendahulu kita. Laknatlah mereka para pengkhianat yang tak pernah mengerti arti berjuang untuk umat dan negara yang selamat penuh rahmat.

Dendam kita saat ini adalah dendam menumpas segala bentuk pengkhianatan, korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, dan bentuk pengkhianatan lainnya. Dendam bukan lagi demi tegaknya kemerdekaan, tetapi kebenaran. Kebenaran tidak datang dari langit, tetapi harus diperjuangkan, begitu Pram menegaskan. Kita juga tidak boleh takut melawan hal tersebut karena pemimpin pemuda itu berpesan pada Larasati, kalau kita tidak berani, itulah sebabnya bangsa lain bisa menjajah kita.


Muhammad Syakir Niamillah
Cirebon, 11 Juli 2016

Sabtu, 26 Maret 2016

Syakir NF

Teror Hujatan

"Akulah Istri Teroris" oleh Abidah El Khalieqy

Praduga saya, membaca novel ini akan sangat seru dengan adanya pengejaran, pengeboman, dan cerita terorisme lainnya atau bahkan baku tembak yang sangat menegangkan. Saya salah sangka. Saya hanya terfokus pada kata Teroris di judulnya. Padahal sebelumnya ada kata Akulah Istri. Jadilah novel ini berkisah tentang kehidupan seorang istri teroris.

Eits, cerita tentang istrinya teroris juga tidak kalah seru dan menegangkan. Apalagi membaca ketegaran sikap tokoh utamanya yang dihujat habis-habisan oleh tetangganya. Kita bisa belajar banyak dari situ.

Melihat pakaian yang dikenakannya, langsung muncul stigma teroris di benak masyarakat. Begitulah yang digambarkan Abidah dalam karyanya ini. Tokoh utama berpakaian layaknya orang Arab, bercadar dan berpakaian longgar.

Suami Ayu, Ardianto, merupakan terduga teroris yang mati ditembak oleh satuan polisi saat ia salat di masjid Mujahidin. Penulis tidak langsung menceritakan asal mula Ardi ini ditembak mati. Bahkan dia membawa cerita itu ke mana-mana. Saya sebenarnya penasaran dengan sebabnya ia tertembak, tetapi justru tidak lagi mempedulikan itu karena terlalu asik dengan cerita percintaan Ayu dengan anggota Brimob, Bahrul Alam.

Bahrul Alam adalah ayahnya Aidil, temannya Aisyah anaknya Ayu. Keduanya sangat dekat karena hanya Aidil yang bisa jadi temannya Ayu, sementara teman yang lain selalu meledeknya dengan mengatakan anaknya tukang ngebom. Bahkan Aisyah tidak mau sekolah kalau tidak dengan Aidil dan ayahnya. Kesempatan itulah yang selalu digunakan Bahrul untuk bertemu ibunya Aisyah. Bahkan hubungan itu tidak saja antaranak, tapi merambat ke orangtuanya, yang satu janda dan yang satu lagi duda. Mereka akhirnya saling mencintai. Layaknya seorang remaja, Abidah menggambarkan percintaan keduanya yang dibumbui gombal dan kepenyairan yang mendadak. Kalau tak jumpa, sering kali mereka saling berhubungan melalui BBM atau bahkan telepon.

Dua kali Ayu lupa tak mengenakan cadar, hingga kecantikannya benar-benar terlihat oleh Bahrul. Hal ini menambah kecintaan Bahrul padanya. Kecantikannya digambarkan oleh kawan lamanya, Winda, seperti Kajol Devgan, aktris Bollywood. Ini dia yang kemudian dijadikan bahan yang pas untuk dimasak jadi gosip oleh Bigos (sebutan Ayu dan Bahrul untuk Bu Murti yang suka menggosipi mereka). Mereka menganggap, Ayu rela membuka cadarnya demi pacarnya yang anggota polisi itu. Bahkan anggapan itu semakin berkembang. Ayu malah dituduh oleh para penggosip itu membunuh suaminya sendiri dengan menyuruh Bahrul untuk menembaknya demi cintanya dengan Bahrul.

Saya semakin terlupakan dengan sebab ditembaknya Ardi karena pencarian jodoh untuk Ayu itu semakin ditambah dengan hadirnya Mahmud, teman lama Ayu yang menduda akibat istrinya yang meninggal sebab kanker payudara. Sebelumnya, bahkan kawan akrab lamanya, Winda, datang jauh-jauh dari Poso bersama suami, Ustadz Bahri, dan anaknya, Khadijah, selain bermaksud untuk silaturahmi dan turut berbela sungkawa, tetapi juga untuk mencarikan jodoh yang minimal sederajat dengan Ardi, sang mujahid.

Yang paling nyata selain hubungan percintaan Ayu dan Bahrul adalah hujatan tetangganya yang sangat luar biasa menghujamkan hujatan tanpa henti. Hebatnya, Ayu selalu menghadapinya dengan tanpa amarah sedikitpun meski hakekatnya sudah memuncak. Tapi itu hanya sampai di hatinya saja, tak sempat terucapkan, kecuali saat ia mengadu ke Bahrul dan saat ia mendengarnya langsung di suatu acara arisan. Di tengah memuncaknya hujatan-hujatan itu, Abidah memunculkan tokoh Bu Hana dan Bu Tati yang tidak berpikiran negatif terhadap Ayu, apalagi sampai menghujatnya. Mereka hadir sebagai penyejuk di tengah panasnya konflik tersebut. Di sini, rupanya penulis ingin menampilkan kuatnya kesabaran tokoh utama dalam menghadapi setiap konflik yang ada. Bahkan sampai akhir cerita pun, tidak diceritakan Ayu memilih siapa sebagai pendampingnya, justru malah fokus untuk kuliah dan menjalankan bisnis barunya.

Bahasa dan Kaidahnya

Ada banyak yang saya sesalkan dalam novel ini, terutama terkait penulisan dan pemilihan bahasa. Penulis lebih memilih kosa kata bahasa asing tenimbang bahasa Indonesia yang padahal ada yang semakna. Misal, penulis lebih memilih kata smart daripada pintar. Penulis juga memilih kata yang tidak baku, seperti tilpun padahal ada yang bakunya yakni telepon. Hal ini diperparah dengan tidak dimiringkannya kata-kata tersebut, semakin merasa kesal saat membacanya.

Selain itu, penulisan angka tunggal dengan simbol, bukan dengan kata. Padahal seharusnya dengan kata, seperti angka “2”, dalam penulisan harusnya dituliskan “dua”, bukan dengan simbol angkanya. Tetapi ada juga yang dituliskan dengan kata. Di sini timbul ketidakajegan penulis dalam menulis ataupun ini juga bisa kita limpahkan kesalahannya pada editor. Terlepas dari ada maksud tertentu atau tidak, pelanggaran kaidah dalam hal ini tidak dibenarkan.

Dalam novel tersebut juga masih banyak terdapat kesalahan penulisan. Bahkan ada salah satu yang saya anggap kesalahannya fatal, yakni sub judul Wildadun Mukhalladun, padahal yang benar adalah Wildanun Mukhalladun. Meskipun pada isi sub judul tersebut ada yang benar penulisannya, tetapi masih terdapat juga kesalahannya. Bagi pembaca awam, ini dapat menimbulkan kebingungan.

Muhammad Syakir Niamillah

Ciputat, 26 Maret 2016

Kamis, 25 Februari 2016

Syakir NF

Bersama Cerita Calon Arang Selama Perjalanan

Penulis dan teman-teman di PDS. HB. Jassin
Beberapa hari yang lalu saya dengar berita bahwa Jakarta Selatan adalah kota termacet se-Indonesia. Hal ini saya rasa tidak berlebihan, karena saya merasakan sendiri betapa Jakarta seperti kota mati yang tidak bisa bergerak sama sekali. Perjalanan yang harusnya dapat ditempuh setengah jam, bisa memakan jarak tempuh dua jam lebih. Menurut saya, ini sudah lebih dari keterlaluan. Tapi hal ini pula membuat diri saya semakin menikmati perjalanan. Sebab meskipun sendirian saya selalu ditemani novel yang selalu setia di tas saya dan selalu berganti tiap minggunya.

Bagi saya yang ponselnya tidak dapat membawa saya berselancar di media sosial, tentulah sangat jenuh sekali bila mata ini hanya menikmati jalanan yang penuh dengan kendaraan.Oleh karena itu, saya manjakan mata yang sudah harus dibantu dengan lensa minus 3.5 ini dengan novel yang selalu siap sedia dinikmati kisah-kisah menariknya.

Tadi siang, saya terpaksa harus mengunjungi Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang terletak di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat karena saya sudah kehabisan akal untuk menemukan referensi tentang Muhammad Yamin dan karya-karyanya yang nantinya akan saya presentasikan pada mata kuliah Kajian Puisi. Sudah saya cari di perpustakaan utama universitas dan perpustakaan fakultas, tidak berjumpa pula kecuali satu buku karya A. Teeuw yang itu juga hanya memuat satu judul tentang beliau dan hanya beberapa halaman saja. Satu referensi dan tidak begitu luas membuat saya tidak merasa cukup. Hal ini yang membuat saya terpaksa untuk merelakan waktu dan tentunya biaya yang sudah sangat limit sekali karena beasiswa belum turun lagi.

Sepanjang perjalanan, saya bercumbu dengan Pramoedya Ananta Toer melalui Cerita Calon Arang. Dari situ, saya tahu asal mula kota Blora, kejamnya Calon Arang terhadap rakyat Daha, bijaksananya Erlangga dalam memimpin kerajaan, dan hebatnya Pendeta Mpu Baradah.

Di halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saya mengawali novel yang terdiri dari 92 halaman ini. Kemudian saya lanjutkan di angkot D 01 dan P 20. Sampai di Pusat Dokumentasi Sastra Hans Bague Jassin (PDS. HB. Jassin), lebih dari setengah sudah saya habiskan.

Di PDS. HB. Jassin, saya berhenti membaca buku tersebut karena fokus pada dokumentasi yang saya cari untuk mata kuliah Kajian Puisi. Selain itu, saya juga menyempatkan diri untuk berbincang dengan kritikus sastra dari Universitas Indonesia, Bapak Maman S. Mahayana. Karena beliau berasal dari tanah Gunung Jati, saya mengenalkan diri yang ternyata kami tetangga kecamatan. Saya di Astanajapura, beliau di daerah Karang Suwung atau Karang Sembung saya lupa.

Setelah mendapat apa yang dicari, mie instan pun telah dinikmati, akhirnya saya pulang. Di Kopaja 20 yang tidak ber-AC, saya duduk di kursi paling depan. Meskipun ugal-ugalan, saya tetap khidmat menikmati dongengnya Mas Pram. Sampai di daerah Kuningan, Cerita Calon Arang rampung dibaca.
Daripada lelah melihat kemacetan, pun mendengar kebisingan yang bersumber dari mesin tua, masih mending saya fokuskan otak ke bacaan. Akhirnya, saya tidak lagi peduli dengan arah kemudi yang tak karuan, salip sana-sini. Oleh karena itu, di manapun dan kapanpun, kita boleh tetap membaca. Tidak seperti salat yang tempatnya harus suci dari najis, waktunya harus tepat, dan pelakunya harus suci dari hadas dan najis, membaca dan pembaca tidak ada syarat khusus. J


Muhammad Syakir Niamillah
Ciputat, 1 April 2015