Our Feeds

Motto

Etik, Estetik, Puitik

Selamat Mengaji

Mengaji Sepanjang Hari

Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2018

Syakir NF

Kesultanan Banten, Satu-satunya Kerajaan yang Punya Catatan Pengadilan Agama



Ayang Utriza Yakin Ph.D dan Penulis
Tidak ada kerajaan Islam di Asia Tenggara yang meninggalkan catatan hukum pengadilan. Umumnya, mereka hanya memiliki undang-undang saja. Tapi tidak dengan Kesultanan Banten. Kerajaan yang berkuasa sejak abad 16 ini memiliki catatan tertulis atas hukum yang diputuskan oleh jaksa agung saat itu.

“Baru Kesultanan Bantenlah yang meninggalkan arsip tertulis,” terang Ayang Utriza Yakin, peneliti posdoktoral di Institut de Recherche, Religions, Spiritualités, Cultures, Sociétés (RSCS), Université Catholique de Louvain (UCLouvain), Belgia, saat diskusi di Perpustakaan Nasional lantai 8, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (28/12).

Catatan itu, lanjut Ayang, mulai ditulis pada tahun 1753 M. Wakil Ketua Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) itu menjelaskan bahwa catatan yang tersimpan di Universitas Leiden, Belanda itu terdiri dari empat naskah, 600 halaman naskah asli dan 2000 halaman naskah salinan. Naskah tersebut, katanya, memuat lebih dari 5000 kasus.

Ayang menyangka bahwa naskah tersebut bisa sampai ke Leiden karena kedekatan Snouck Hurgronje dengan Hussein Djajadiningrat, putra Regen Serang Soetadinata. “Saya menduga Snouck Hurgronje mendapatkan naskah-naskah Kiai Peqih Najamuddin dari keluarga Hoessein Djajadiningrat, yaitu (dari) bapaknya Soetadinata karena penguasa setempat,” katanya.

Namun, tesisnya tersebut terbantahkan oleh Witkamp dalam bukunya The Inventory of Manuscripts. Kepindahan naskah itu ke Leiden, kata Ayang mengutip Witkamp, karena dirampas oleh Pemerintah Hindia Belanda dari seorang syekh yang dituduh melakukan perbuatan zindik dengan jumlah naskah 149 buah. Mereka menangkap syekh tersebut dan menyita semua yang ada di rumahnya.

“Diduga, naskah-naskah Kiai Peqih Najamuddin termasuk yang disita oleh Pemerintah Kolonial Belanda,” jelasnya.

Kiai Peqih Najamuddin merupakan sebutan untuk jaksa agung pada masa itu di Kesultanan Banten. Peqih berasal dari bahasa Arab, faqih, yang berarti orang yang ahli fiqih, hukum Islam. Najamuddin, juga berasal dari bahasa Arab yang berarti bintang agama.

“Kadi merupakan jabatan pemegang tampuk wewenang hukum, sementara Kiyahi Peqih Najamuddin adalah bagi kadi yang berkuasa,” kata santri Tebu Ireng yang menamatkan studi magister dan doktoralnya di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Perancis itu.

Gelar tersebut kali pertama diberikan kepada Entol Kawista pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Gelar itu masih dipakai sampai Kiai Peqih Najamuddin terakhir Haji Muhammad Adian pada 1855-1856.

Lima ribuan kasus yang termuat dalam catatan yang kemungkinan besar tidak langsung ditulis oleh Kiai Peqih Najamuddin itu melibatkan 400-an laki-laki dan 250-an perempuan. Kasus terbanyak tentang utang-piutang dengan jumlah 600 kasus. Selain itu, talak 90-an kasus, budak 80-an kasus, kesaksian 40-an kasus, dan sebagainya.

(Syakir NF)

Senin, 05 Februari 2018

Syakir NF

Tiga Jejak Pemikiran Imam Ghazali dalam Penetapan Hukum di Indonesia



Imam Ghazali begitu banyak menulis kitab dalam berbagai bidang keilmuan. Karyanya tersebar ke penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Sanad keilmuan para ulama Nusantara bersambung sampai padanya melalui Syekh Nawawi Al-Bantani yang berguru pada Syekh Abdusshamad Al-Falimbani.

Setidaknya, ada tiga pemikiran ulama yang berkunyah Abu Hamid itu dalam penentuan hukum di Indonesia. Hal itu disampaikan oleh Mukti Ali Qusyairi saat mengisi kajian rutin Islam Nusantara Center, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (3/2).

Pertama, dukungan ulama Nahdlatul Ulama terhadap kepresidenan Soekarno. Kiai NU mendukung penuh, menyatakan bahwa Bung Karno adalah presiden yang sah secara hukum. Hal itu merujuk pada konsep yang ditawarkan oleh Imam Ghazali, waliyyul amri ad-dlaruri bis syaukah.

“Sangat susah untuk mencari pemimpin Muslim yang sempurna. Syarat pemimpin yang ditetapkan ulama terdahulu itu di antaranya harus mujtahid mutlak, harus hafal Al-Quran, hafal ribuan hadits, harus bisa istinbath dan menggali hukum sendiri. Ini tidak mungkin,” ujar Mukti merangkum pernyataan Imam Al-Ghazali dari beberapa kitabnya yang ia baca.

Oleh karena itu, Bung Karno sah karena darurat kepemimpinan. “Dengan pertimbangan, kalau tidak ada pemimpin akan menimbulkan chaos (kekacauan),” lanjutnya.

Kedua, tradisi tarian Nusantara. Dalam diskusi yang bertema “Pengaruh Imam Ghazali dalam Akselerasi Peradaban Nusantara” itu, Mukti menyampaikan bahwa pada tahun pertama didirikan, NU membolehkan tarian tradisional. Hal itu didasarkan pada pandangan Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin pada bab al-ghina.

Dalam bab tersebut, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah melihat kaum Habasyah menyanyi dan menari. Nabi tidak menegur dan melarangnya. Dalam riwayat lain, Sayyidina Umar pernah menanyakan kepada Nabi perihal menyanyi dan menari yang dilakukan Kaum Habasyah di hari raya. Nabi membiarkan mereka karena mensyukuri hari raya.

Tetapi hal tersebut boleh dilakukan dengan satu catatan. “Selama tidak ada itu (kemungkaran), maka tidak apa-apa,” kata pria asal Cirebon itu.

Bahkan, Syekh Murtadla dalam Ithaf Sadatil Muttaqin, syarah Ihya Ulumiddin, menyamakan tarian dengan olahraga. Ia melihatnya keduanya sama-sama bergerak. “Mestinya, jika menari dilarang, maka olahraga juga dilarang,” begitu pandangan Syekh Murtadla yang dikutip oleh Mukti.

Menurutnya, kebolehan itu juga atas dasar hal tersebut merupakan identitas budaya. “Itu adalah bagian dari kekayaan kesenian kita,” katanya.

Ketiga, kebolehan program Keluarga Berencana (KB). KH Ibrahim Hosen adalah salah seorang yang mendukung KB. Hal itu, menurut Mukti, dikiaskan pada konsep ‘azl (menumpahkan sperma di luar vagina) ala Imam Al-Ghazali. Hal itu diulas dalam kitab Ihya Ulumiddin.

“Sebenarnya pembatasan tidak boleh. Tapi yang boleh itu pengaturan. Azl sendiri tujuannya adalah mengatur,” lanjutnya. (Syakirnf/Alhafiz K)

NU Online
Syakir NF

Pandangan Imam Al-Ghazali terhadap Hadits Dhaif dan Maudhu


Tak sedikit orang yang mempersoalkan hadits-hadits dhaif dan maudhu yang termaktub dalam kitab Ihya Ulumiddin Imam Al-Ghazali. Hal itu kerap kali dijadikan peluru yang biasa dilancarkan oleh Salafi-Wahabi terhadap Muslim Suni.

Ditanya demikian, Mukti Ali Qusyairi menjawab bahwa sufi memiliki kacamata tersendiri dalam memandang hadits. Berbeda dengan ahli hadits, mereka tidak mengkritisi hadits dari rawi dan sanadnya dengan al-jarh wat ta’dil, tetapi dari matannya sebagai substansinya.

“Lebih kepada substansi yang terkandung dalam teks,” katanya saat mengisi kajian dengan tema Pengaruh Imam Al-Ghazali dalam Akselerasi Peradaban Nusantara di Islam Nusantara Center, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (3/2).

Hal ini menunjukkan kebolehan merujuk pada hadits maudhu atau daif. Tetapi tidak untuk semua hal. Pengambilan hadits-hadits tersebut hanya boleh digunakan untuk keutamaan amal.

“Kita boleh saja mengambil hadis maudhu, hadits palsu. Tapi li fadhailil a’mal, untuk keutamaan amal,” ujarnya.

Di samping itu, Imam Al-Ghazali merupakan seorang sufi yang tidak bertarekat. Pada zamannya, belum ada pelembagaan spiritualitas. Baru sekitar 50-100 tahun setelahnya, muncul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Pandangan sufi yang digelari sultanul auliya terhadap hubungan murid dan guru itu dipengaruhi oleh pendapatnya Imam Al-Ghazali. Hal tersebut bisa dicek pada Tarekat Qadiriyah wa Naqasyabandiyah.

“Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah orang Baghdad, sama seperti Imam Al-Ghazali. Meskipun terjadi perbedaan pendapat apakah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani itu berguru langsung kepada Imam Al-Ghazali atau tidak, atau berguru pada muridnya Imam Al-Ghazali, konsep sufismenya itu begitu banyak mengadopsi dari konsepnya Imam Al-Ghazali.”

Selain itu, Penulis buku Kisah-kisah Ajaib Imam Al-Ghazali itu juga mengatakan bahwa kehebatan Imam Al-Ghazali adalah mampu menarasikan kisah spiritualnya dengan bahasa yang mudah dicerna. Hal ini berbeda dengan Imam Ibnu Athaillah yang karyanya, Al-Hikam, sangat filosofis. Menurutnya, hal tersebut memungkinkan adanya kesalahpahaman.

Dalam kajian tersebut, alumnus Universitas Al-Azhar itu juga mengungkapkan tiga butir pemikiran Imam Ghazali yang berpengaruh di Indonesia, yakni pada dukungan NU atas kepresidenan Sukarno, tradisi tarian Nusantara, dan dukungan ulama atas program Keluarga Berencana (KB). (Syakirnf/Alhafiz K)

NU Online

Kamis, 01 Februari 2018

Syakir NF

Dua Amanah yang Diemban NU Menurut Kiai Said


Genap berusia 92 tahun, Nahdlatul Ulama (NU) akan tetap memegang dua amanah yang diembannya, yakni agama dan tanah air.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan dalam rangka peringatan Harlah ke-92 NU di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (31/1).

Dua hal penting dalam menjaga amanat keagamaan yang perlu dipegang teguh, yakni tawasut dan tasamuh. Tawasut berarti moderat, beradi di posisi tengah. Artinya, NU tidak radikal dan tidak liberal. Pun tidak tekstual atau hanya mengandalkan akal.

“Sikap moderat ini tidak akan terwujud kecuali harus didukung dengan ilmu pengetahuan,” katanya kepada ribuan warga NU yang memenuhi masjid tersebut.

Hal kedua yang mesti dipegang teguh dalam rangka mengemban amanah agama adalah tasamuh atau toleran. Rasulullah saw juga orang yang toleran. Ia hidup bersama warga yang berbeda agama.

“Orang toleran itu berakhlak,” katanya.

Sementara itu, amanat menjaga tanah air (wathaniyah) adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila. “Pancasila tidak mengurangi keislaman, Islam tidak merusak Pancasila,” tegasnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah itu berharap agar NU bermanfaat, berguna, dan menjadi faktor penting untuk perdamaian dunia.

Sebelum menyampaikan sambutannya, kiai asal Cirebon itu menerima cenderamata dari Duta Besar Kerajaan Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi. Osama menyampaikan rasa syukur dan suatu kehormatan bisa berada di tengah para ulama NU.

Kegiatan yang diawali dengan salat Isya dan gerhana berjamaah itu dihadiri beberapa tokoh lainnya seperti Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko yang mewakili Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Direktur Wahid Foundation Yeni Wahid, dan sebagainya.

Pada pertengahan acara, para pejabat tersebut menerima potongan tumpeng dari PBNU yang diwakili oleh Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini, dan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud. (Syakir Niamillah/Fathoni)

NU Online
Syakir NF

Pesan Rais ‘Aam kepada Nahdliyin Jelang Seabad NU


Sembilan puluh dua tahun sudah usia Nahdlatul Ulama (NU). Sembilan puluh dua tahun juga NU memasyarakatkan dirinya di kancah dunia. Tidak hanya di Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari simbol NU. Huruf dlad-nya panjang, melintasi bola dunia.

Begitulah Rais Aam Nahdlatul Ulama KH Ma'ruf Amin mengawali khotbah ikhtitam pada peringatan Harlah ke-92 NU di Masjid Raya KH Hasyim Asyari Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (31/1).

“NU tidak hanya di Indonesia, tapi sampai ke seluruh dunia,” ujarnya disambut riuh tepuk tangan Nahdliyin yang memenuhi masjid yang dibangun oleh Gubernur DKI Jakarta 2012-2014 Joko Widodo itu.

Pencapaian di kancah dunia NU kini sudah memiliki lebih dari 20 cabang istimewa. Bahkan orang-orang luar negeri tidak keberatan atas masuknya Islam di wilayah mereka. Tetapi tidak sembarang Islam yang masuk. Kiai Ma'ruf mengatakan, asalkan Islamnya Islam Nusantara.

Mendekati seabad ini, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara Banten itu berharap NU akan tinggal landas di abad kedua. Ada delapan tahun untuk mempersiapkan hal tersebut.

“Delapan tahun kita runaway untuk tinggal landas,” katanya.

Oleh karenanya, ia meminta kepada seluruh jajaran NU di semua tingkat kepengurusan agar terus bergerak. “NU di semua tingkatan jangan ada yang diam,” tegas Kiai Maruf.

Peringatan Harlah NU ini diawali dengan shalat sunah gerhana bulan berjamaah. Di tengah kegiatan, para tamu kehormatan menerima potongan tumpeng yang diserahkan oleh perwakilan pengurus PBNU.

Lalu, kegiatan ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Jakarta KH Noor Iskandar. (Syakir Niamillah/Fathoni)

NU Online
Syakir NF

Ingin Jadi Organisasi Sosial, Muslim Moro Filipina Kunjungi PBNU


Kelompok Muslim Filipina yang tergabung dalam Moro Islamic Liberation Front (MILF) melakukan kunjungan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu (31/1). Mereka berkunjung dalam rangka menyerap pengalaman Indonesia berhasil menyelesaikan konflik Aceh.

MILF sebelumnya adalah kelompok bersenjata dan melakukan gerakan separatis. Mereka ingin memisahkan diri dari Filipina. Namun belakangan, tuntutan mereka berubah, yakni menjadi daerah otonomi layaknya Aceh karena mayoritas di wilayah mereka beragama Islam.

Perubahan tuntutan itu juga mengubah haluan organisasi mereka menjadi gerakan sosial. Deputi Direktur Direktorat Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri Hastin Dumadi mengatakan bahwa kunjungan MILF ke PBNU adalah salah satunya untuk mengembangkan dirinya menjadi organisasi sosial.

“Makanya ketemu dengan NU,” katanya.

MILF akan berusaha mengubah keadaan agar masyarakat di tempat mereka berdiri itu berubah memegang pena dan cangkul. Tidak lagi memanggul senjata.

“Supaya ada bekal pengetahuan, keahlian, dan keterampilan. Juga untuk mengangkat harkat, martabat, serta kesejahteraan,” kata Hastin.

Bukan kali ini saja MILF menjalin hubungan dengan NU. Saat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih menjabat sebagai ketua umum, MILF juga sudah menjalin komunikasi dengan NU.

Ketua PBNU H Marsudi Syuhud menyatakan siap berbagi informasi dan bekerja sama. Salah satunya dalam bidang pendidikan, PBNU siap memfasilitasi MILF untuk menimba ilmu di sekolah NU.

Sebelumnya, MILF telah mengunjungi Aceh pada Ahad (28/1). Kabarnya, Kamis (1/2) ini, mereka akan bertemu dengan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla dan Menteri Luar Negeri Retno LP. Marsudi. (Syakir Niamillah/Fathoni)

NU Online