Our Feeds

Motto

Etik, Estetik, Puitik

Selamat Mengaji

Mengaji Sepanjang Hari

Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Syakir NF

Soal Bermedia Sosial, Ini Pesan Kiai Akyas Buntet

KH Akyas Abdul Jamil Buntet Pesantren

Bicara tentang media sosial, kita tak lepas dari status, komentar, dan publikasi ulang terhadap link atau status yang dibuat orang lain. Mudahnya mengakses media sosial tersebut membuat orang gemar membuat status atau mengisi kolom komentar. Publikasi ulang juga sering dilakukan.

Media sosial kerap kali bukan lagi menjadi media untuk berinteraksi antarindividu, tetapi seakan meluas pada media psikologi. Ya, tentu kita sering melihat bagaimana orang-orang mengungkapkan perasaannya di situs Facebook, misalnya. Hal-hal yang seharusnya menjadi privasi diri sendiri, kini sangat mudah dikonsumsi oleh masyarakat umum. Status yang kita buat tidak terbatas hanya pada lingkup regional atau nasional, tapi bahkan internasional, tidak terbentur tembok batas kenegaraan.

Penulis jadi ingat saat upacara tiap hari Senin di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren Cirebon, tempat penulis mengaji. Pembina Upacara KH Ade Nasihul Umam dalam amanatnya menyampaikan satu syiir dengan bahr thowil karya KH Akyas Abdul Jamil berikut.

تُصَوِّيْتُ تَاعْ تِيعْ تُوعْ وَطَاتْ تَيتْ وَطَاتْ وَلَا # تُبَالِيْ بِجِيْرَانٍ فَقَوْلُكَ ضَاءِعٌ

Tushowwitu tang ting tung wa tot tet wa tot wa laa # tubali bijironin faqouluka dloi’un

Kamu bicara tang ting tung dan tot tet tot (macam-macam) dan tidak memperhatikan tetanggamu, maka ucapanmu itu sia-sia

Jauh sebelum media sosial itu lahir, Muqoddam Tarekat Tijani itu sudah mengingatkan kita untuk tidak perlu banyak berkomentar ataupun menulis status jika hanya mengganggu tetangganya. Dalam konteks media sosial, tentu mengganggu pembaca atau pengguna media sosial lainnya.

Secara langsung, beliau tidak mengatakan demikian. Tapi, jika kita maknai lebih jauh lagi akan beroleh kesimpulan ke sana. Atau lebih halusnya, adik Kiai Abbas Buntet itu membolehkan siapapun berkomentar, asalkan baik dan bermanfaat.

Oleh karena itu, dalam bermedia sosial, jari kita perlu dijaga. Jangan sampai dengan mudah membagikan link sebelum diyakini kevalidannya. Perihal pengunggahan status pun, mestinya kita perhatikan betul. Masihkah kita perlu berbuat kesia-siaan? (Syakir Niamillah Fiza/Kendi Setiawan)

NU Online
Syakir NF

Hendak Mengaji, Kiai Furadi Dihadang Kompeni

Ilustrasi, Brilio.net


Furohidi tinggal di Desa Buntet. Setiap kali mau mengaji ke beberapa kiai di Buntet Pesantren yang terletak di Desa Mertapada Kulon, ia harus melewati  kebun hutan yang masih rimbun dan menyeberangi sungai.

Begitu tiba di seberang sungai, ia langsung dicegat Kompeni.

“Mau ke mana?” tanya tentara Belanda itu kepadanya.

“Nyari rumput,” jawab pria yang akrab disapa Man Furadi.

Lalu ia dipersilakan lewat.

Begitulah perjuangan Furadi muda saat hendak mengaji. Nyawanya dipertaruhkan.

Tiap kali berangkat mengaji, sengaja ia berpenampilan bak seorang yang hendak mencari rumput. Di punggungnya menggantung karung yang dipanggul satu tangan. Di dalam karung itu diisi rumput cukup banyak. Ia menyimpan buku, kitab, hingga pena dan mangsi (tinta) pada tumpukan rumput tersebut.

Jika tidak demikian, mungkin keberadaannya entah di mana.

Sampai suatu masa, Kiai Furadi, sebagian orang lagi menyapanya demikian, dikenal sebagai seorang kaligrafer ulung. Ia mampu menulis kalimat bahasa Arab berbeda dengan dua tangannya secara bersamaan hingga selesainya pun di waktu yang sama.

Setiap kali mengajarkan kaligrafi, ia bakal mengulas habis kalimat yang ia contohkan, dari nahwu, sorof, balaghah, hingga makna hikmahnya kepada segenap santrinya.

Lalu, Kids Zaman Now masih enggan mengaji?

*
Dikisahkan oleh salah satu santrinya, KH Muhadditsir Rifa’i Syifa Akyas.

(Syakirnf/Kendi Setiawan)

NU Online
Syakir NF

Ketika Kiai Ma’shum Lasem Menangis di Buntet Pesantren

Ilustrasi

Hari itu, para kiai, santri, dan masyarakat Buntet Pesantren telah bersiap menerima kedatangan tamu agung dari Rembang, Kiai Ma’sum Lasem.

Tiba di Buntet Pesantren, Kiai Ma’shum langsung disambut dengan shalawat yang dilantunkan oleh KH Fuad Hasyim, KH Busyrol Karim, dan dua qari internasional dari Buntet Pesantren, yakni KH Fuad Zen dan KH Jawahir Dahlan.

Lantunan merdu shalawat dari kitab al-Barzanji itu diiringi dengan tabuhan genjring oleh keempat kiai tersebut. Suara genjring yang berasal dari Palembang seketika membius Mbah Ma’shum.

Saat itu pula, Mbah Ma’shum menangis sembari ngendika (berucap), “Mboten. Mboten haram. Mboten haram (Tidak. Tidak haram. Tidak haram).”

Kiai Ma’shum konon pernah mengharamkan genjring karena beberapa hal. Tetapi, begitu melihat tabuhan genjring di Buntet, beliau langsung menarik pernyataannya.

Selain Mbah Ma’shum, beberapa ulama lain yang pernah datang ke Buntet Pesantren juga disambut dengan tabuhan genjring, seperti Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani dan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadis, Malang, al-Habib Abdullah Bafaqih. (Syakirnf/Kendi Setiawan

NU Online

Kamis, 12 Oktober 2017

Syakir NF

Kiai Ahmad Manshur dan Pengkaderan Ilmu Falak


Entah kebetulan atau tidak, pada 15 Februari 2017, Buntet Pesantren dilanda banjir bandang. Dua hari setelahnya, KH Ahmad Manshur berpulang. Bagi masyarakat, khususnya para santrinya, hal tersebut seolah menjadi tanda alam kehilangan sosok tegas itu. Ketegasan beliau terlihat dalam setiap Bahtsul Masail. Meskipun demikian, jika suasana sudah tegang, ia sendiri yang akan mencairkannya dengan guyonnya yang khas.
Kealimannya dalam bidang fikih tidak ada yang meragukannya. Sampai-sampai Mustasyar PBNU K.H. Adib Rofiuddin pernah berseloroh, siapa yang mau menikahi putrinya, harus bisa baca kitab Fathul Wahhab dan ditashih oleh K.H. Ahmad Manshur. Karena kealimannya tersebut, ia dipercaya mengampu mata pelajaran fikih dan ushul fikih di madrasah di lingkungan Buntet Pesantren.
Meskipun ia tak punya pondok, tetapi beberapa santri Buntet Pesantren di waktu senggangnya ngaji pada beliau. Ada yang mengaji kitab Fathul Wahhab, ada pula yang mengaji kitab Jauhar al-Maknun. Selain itu, ia juga mengajarkan ilmu falak sebagai salah satu ilmu yang menjadi konsennya dengan kitabnya Durusul Falakiyyah.
Ilmu falak ini dipelajari secara khusus di Madrasah Aliyah Nahdalatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren. Ilmu langka tersebut pertama kali diampu oleh K.H. Kamil Kailani. Karena merasa sudah sepuh, ia menyerahkan pelajaran tersebut kepada beberapa guru MANU Putra yang saat itu telah ia kader untuk meneruskannya. Dipilihlah K.H. Ahmad Manshur oleh K.H. Hasanuddin Kriyani yang saat itu menjabat sebagai kepala madrasah.
Selain pada Kiai Kamil, K.H. Ahmad Manshur juga mengaji ilmu falak pada K.H. Hasyim Anwaruddin. Kiai Kamil mengaji pada K.H. Ma’shum Ali, menantu Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, yang juga penulis kitab Durusul Falakiyyah. Hal tersebut terlihat dari buku yang beliau ajarkan. Buku tersebut merupakan terjemah atas kitab Durusul Falakiyah. Sementara K.H. Hasyim Anwar, kemungkinan belajar dari pamannya, yakni K.H. Imam Abdul Mun’im yang dulu mondok di Kaliwungu, Kendal.
Sepeninggal Kiai Kamil, ia berjuang meneruskan pengajaran ilmu falak tersebut agar tidak punah ditelan zaman. Sampai pada masanya, MANU Putra tidak lagi mengajarkan ilmu tersebut, ia mengajari putranya. Putranya lalu mengajak rekan-rekannya untuk turut gabung pada pengajian yang berlangsung usai pulang dari madrasah tersebut.
Tahun 2006, ia mengikuti pertemuan ahli falak di Semarang. Di sana, ia bertemu Dr. K.H. Ahmad Izzuddin, ahli falak UIN Walisongo. Semenjak pertemuan itu, Kiai Mamad, panggilan akrabnya, beberapa kali mengirim santri-santrinya untuk belajar pada Kiai Izzuddin.
Hal tersebut lantaran Kiai Mamad hanya mengajarkan metode klasik dengan alat rubu’ al-mujayyab seperti yang guru-gurunya ajarkan pada beliau, sementara di Pondok Daarun Najaah asuhan Kiai Izzuddin sudah diajarkan dengan metode kontemporer dengan alat kalkulator scientific. Harapannya tentu saja, santri-santri dapat menguasai dua metode tersebut, meskipun sendirinya tidak.
Di usianya yang sudah lebih dari 70 tahun, ia tetap istiqomah mengkader santri-santri untuk belajar falak. Setiap kali mengirimkan santri-santri belajar ke Semarang, ia sendiri yang mengantarkannya. Tidak pernah absen. Pun saat sudah selesai, ia pasti turut menjemputnya. Ia pun masih aktif mengajar ilmu falak di MANU Putra. Hal tersebut menunjukkan bahwa sosoknya tidak tergantikan. Meskipun rekan-rekan seangkatannya sudah istirahat dari mengajar, ia masih aktif berbagi ilmu di madrasah.
Beberapa tahun terakhir, mula 2011-an, Kiai Mamad gencar menananyakan pendirian komunitas sebagai wadah santri-santri falak berkreasi. Setiap kali penulis bertemu, ia langsung bertanya, “Bagaimana komunitas?” selalu saja demikian. Tahun 2012 MANU Putra kembali membuka program syariah atau keagamaan. Lahirnya jurusan ini pula yang menyebabkan kembalinya ilmu falak di madrasah yang didirikan pada tahun 1983 itu. Pada awal tahun 2014, komunitas yang diharapkan oleh kiai itu lahir bersamaan dengan usainya pelatihan pengukuran arah kiblat bersama mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo. K.H. Ade Nasihul Umam sebagai kepala MANU Putra Buntet Pesantren saat itu membacakan deklarasi pendirian komunitas.
Menjelang akhir hayatnya, saat beberapa santri kalong pilihannya sudah memiliki kesibukan masing-masing dengan perkuliahan dan kerjanya, Kiai Mamad tetap mengkader dengan mendatangi rumah rekan penulis. Dari rumahnya, ia berjalan sekitar satu kilometer ke rumah santri kalongnya itu. Saat santrinya masih tidur, ia pun masuk ke kamarnya tanpa rasa risih dan membangunkannya dengan lembut memanggil namanya. “Qum!” ujarnya setelah menyebut namanya itu. Lalu ia meminta santrinya itu mengambil wudlu. Di kamarnya, atau di ruang tamu, ia mengajarkan beberapa materi yang belum sempat ia sampaikan.
Rekan penulis pun pernah meminta agar ia saja yang datang ke ndalemnya. Tetapi ia menolaknya dengan lembut, Biar saya sering jalan,” katanya. Padahal penulis dan masyarakat sangat tahu, setiap usai mengimami salat Subuh di masjid, ia selalu jalan-jalan. Pun saat tengah malam, saat banyak orang tertidur, ia berkeliling Pondok Buntet Pesantren dengan berkain sarung, berpeci, dan berkaos saja. Tangannya disilangkan di belakang punggungnya sembari memutar biji tasbih.
Pada rekan penulis juga, ia menunjukkan buku berjudul Astrologi. Setelah menunjukkan buku tersebut, ia pun mulai menghitung kapan ia akan berpulang. Hitungannya tahun depan. Lalu, kepada rekan penulis, ia pun berpesan, “Jika saya sudah di rumah sakit, kamu gak perlu datang menjenguk lagi. Itu sudah tanda.”
Pada suatu ketika, ia jatuh sakit. Ia tetap memaksa ke masjid, meski tak seperti biasanya berjalan kaki dari rumahnya, dengan bonceng motor. Ia enggan dilarikan ke rumah sakit, sebab khawatir akan shalatnya. Lalu, putranya menjelaskan, bahwa di rumah sakit pun tetap bisa shalat. Sembari berbaring menghadap kiblat, ia pun berjamaah dengan istrinya sampai akhir hayatnya.
Sampai akhir hayatnya, ada satu impiannya yang belum terwujud sebagai ahli falak. Ia ingin keliling pondok pesantren se-Jawa Barat untuk dakwah ilmu falak, dan mendirikan komunitas falak baru agar ilmu yang ia tekuni itu dapat terus berkembang, tidak hanya di Buntet Pesantren.
Ciputat, 11/8/2017
Syakir NF

Tanya Langsung Kiai Kholil!


Dalam satu kesempatan, Kiai Kholil Bangkalan meminta agar pembantunya tidak menjawab pertanyaan siapapun. Kiai Kholil menyuruhnya agar langsung menanyakan pada dirinya.

Saat pengajian tengah berlangsung, tiba-tiba Kiai Kholil tertawa. Para santri terheran-heran. Salah seorang di antaranya memberanikan diri bertanya, “Ada apa kiai?”

Kiai Kholil yang dikenal waliyullah itu menjawab, pembantunya yang saat itu telah meninggal sedang ditanya Malaikat Munkar dan Nakir, “Man rabbuka?”

Pembantunya menjawab, “Tanya Kiai Kholil!” (Muhammad Syakir Niamillah Fiza)


*) Dikisahkan oleh sesepuh Buntet Pesantren KH Nahduddin Royandi Abbas

NU Online
Syakir NF

Kaktus dari Presiden Gus Dur


Aneh. Begitulah hal pertama yang ada di benak Mohammad Mustahdi, putra KH Abdullah Abbas saat kedatangan paket dari istana. Saat itu, KH Abdurrahman Wahid belum lama terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat.

Kiai Dulah, panggilan masyarakat kepada KH Abdullah Abbas, adalah orang yang menolak keras pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Sampai putusan akhir musyawarah para kiai meridai pencalonan putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim, Kiai Dulah tetap dalam pendiriannya menolak dengan tetap menghargai keputusan forum.

Penolakan Kiai Dulah tentu saja bukan tanpa alasan. Sesepuh Buntet itu, menurut penuturan putranya, enggan melihat Gus Dur menjadi tumbal reformasi. Bahkan, saat pemilihan presiden berlangsung, Kiai Dulah menangis.

“Saya ingat betul, saat pemilihan itu, bapak nangis,” ujar Mohammad Mustahdi, putra Kiai Dulah.

Paket dari Presiden Gus Dur itu hanyalah sebuah pot bertanamkan kaktus. Tidak lebih.

“Hanya kaktus?” tanya Mustahdi pada staf presiden.

Tentu staf presiden itu mengiyakan karena memang tidak ada lagi. Hal tersebut membuat Mustahdi bertanya-tanya. Namun ketika ia menanyakan apa maksud kiriman itu pada ayahnya, ia hanya mendapat senyum ayahnya. Tidak lebih.

“Bapak tuh cuma senyum aja,” ujar wakil ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama itu.

Dia akhirnya berpikir sendiri, mencoba menafsiri maksud kiriman itu. Ia akhirnya beroleh kesimpulan, bahwa Gus Dur ingin mengabarkan pada Kiai Dulah untuk tidak perlu mengkhawatirkannya. Kaktus mampu hidup sendiri di tengah padang pasir yang gersang. (Syakirnf)

NU Online