Our Feeds

Motto

Etik, Estetik, Puitik

Selamat Mengaji

Mengaji Sepanjang Hari

Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memoar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Desember 2024

Syakir NF

Kembali dari Chicago

 


Rasanya seperti masih mimpi sudah kembali ke negeri sendiri. Chicago sudah selayaknya rumah, tempat kami pulang dan istirah dari kunjungan dan kuliah.

 

Putaran jarum jam demikian cepatnya. Dua bulan berlalu begitu saja.

 

Segala sesuatu di Chicago terasa masih hangat di kening. Sebab segalanya pantas untuk dikenang. Mulai tempat-tempat yang ramai hingga paling hening, juga orang-orang yang demikian membuat senang.

 

Ah. Memang setiap tatap mata selalu berujung saling punggung. Namun yakinlah, jantung kita berdetak di atas satu panggung.

 

Betapa tidak, senandung malam itu terngiang sepanjang masa.

 

Hai Kiai Timothy yang telah mengajari kami dengan sungguh-sungguh

Pun pada Kiai Mahan dan Ustadzah Romana, kami berterima kasih sepenuh-penuh

Nazhah, Caya, dan Bek sudah seakan sahabat

Dan AIC dalam pandangan kami selayaknya kerabat dekat

Kamis, 23 Mei 2024

Syakir NF

Sesesi di Sen-C

Sesi di Sen-C, Kamis (16/5/2024).


Setelah kunjungan ke British Council di bilangan Senopati, pada Kamis (16/5/2024), rekan-rekan mengajak ke Sensi. Saya tak paham apa itu Sensi? Ternyata itu akronim dari Senayan City (Sen-C). Menuju ke sana, kami berjalan kaki sekitar 20 menit, sebagian ibu-ibu menaiki mobil yang dipesan secara daring.


Waktu istirahat tiba, pujasera Sen-C semakin penuh. Sebagai seorang yang masih menantikan cairnya living allowance beasiswa, saya berekspektasi demikian jauh terhadap mereka yang memenuhi ruang dengan warung-warung bermenu makanan luar negeri itu. Tentu saja soal how many sallary did they get from their job? Terlebih malam sebelumnya, saya sempat mengantar rekan dari Timor Leste yang mendapat pekerjaan di Jakarta dan menempati sebuah kosan dengan harga perbulannya di atas Rp2 juta. Apalah hamba yang cuma bayar Rp300 ribu saja untuk kosan satu petak isi berdua.


Saya pribadi lebih memilih untuk menikmati suasananya dengan menatap tab. Bukan saja karena harga makanan yang bisa berkali lipat dari Warteg Bahari yang biasa di Ciputat saya hampiri, tetapi juga karena lidah yang tak selera dengan rasa dari beda negara. Entah karena indra pengecap ini yang kampungan atau karena belum biasa saja mencecap betapa masakan ala-ala Asia Timur itu bisa disebut sebagai kenikmatan. Namun yang pasti, sejumlah makanan yang pernah dicicipi tidak malah masuk ke perut, malah keluar lagi dari mulut.


Wal hasil, sebagaimana disebut di atas, saya memilih untuk menatap tab sembari menahan kantuk yang sudah sedemikian lama mengetuk. Berbeda dengan saya, Bapak dari Air Molek yang duduk di samping saya sudah meletakkan kepalanya di meja. Matanya sempurna terpejam sepertinya. Bedanya lagi, ia tidak makan bukan karena tak selera, tetapi karena memang sedang menikmati puasa.


Setelah hampir 30 menit lepas dari jam dua belas, kami memutuskan kembali ke kelas.

Jumat, 17 Mei 2024

Syakir NF

Sampai Ngopi di Luar Negeri

Peserta program persiapan beasiswa Dana Abadi Pesantren Kementerian Agama-LPDP di Pusat Pengembangan Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Foto: Maret 2024)


Setiap jumpa pastilah pisah. itulah yang tengah kami hadapi selepas tiga bulan berjuang bersama mengikuti kursus IELTS sebagai persiapan beasiswa luar negeri di Pusat Pengembangan Bahasa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebuah program yang disiapkan Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk akademisi dari pesantren.


Ada bendungan yang tak lama lagi pecah di pelupuk sebab sedemikian erat kami saling 'memeluk', tetapi keadaan membuat kami remuk. Meski demikian, kami sudah berkomitmen untuk selalu saling memupuk mimpi-mimpi kami agar tidak lapuk.


Tiga bulan rasanya demikian singkat untuk kami yang sudah menganggap rekan kelas adalah kerabat, bukan lagi sekadar sahabat. Namun waktu tetaplah waktu yang tak dapat diperpanjang ataupun dipersingkat. Ia selalu berjalan sesuai dengan kodrat. Dan sekali lagi, jarak bakal memaksa kita bersekat.


Guna menenangkan diri yang sudah kalut luar biasa, saya mengumpulkan keyakinan sembari membayangkan bahwa akan tiba suatu masa, kami saling berkunjung di negeri dan kampus yang menjadi jawaban ketika orang-orang bertanya hendak lanjut ke mana. Sebuah keyakinan yang diaminkan bersama.


Mengutip senandung Ummi Kultsum dalam "Zekrayat", saya meyakini tiga bulan ini bakal "terngiang sepanjang hayat".


Program kita memang sudah selesai. Namun perjuangan ini belum usai mengingat cita-cita belum kita capai. Yakinkanlah diri kita, bahwa apa yang kita tanam, tak lama lagi akan kita tuai.


Syakir NF, 16 Mei 2024

Rabu, 15 Mei 2024

Syakir NF

Tiga Guru Didin yang Menginspirasi

Bapak Didin Syarifuddin, Bapak Didin Sirojuddin, dan Bapak Didin Nuruddin. (kiri ke kanan)

Ada tiga guru saya yang akrab disapa Pak Didin, yakni (1) Pak Didin yang bernama asli Syarifuddiin, (2) Pak Didin Sirojuddin AR, dan (3) Pak Didin Nuruddin Hidayat.


Nama pertama merupakan guru saya sewaktu menempuh studi di Madrasah Tsanawiyah NU Putra 1 Buntet Pesantren. Ia mengajar saya pelajaran Ke-NU-an, satu mata pelajaran yang hanya ada di madrasah dan sekolah NU saja. Ia mengajari kami dengan sepenuh hati dan kelembutan. Ia mengkhidmahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi kepada ilmu sampai akhir hayatnya tiga tahun lalu. Ya, saya tulis demikian mengingat sedari muda mula, ia sudah berkhidmat dengan menjadi staf dan pengajar di MTs NU Buntet Pesantren.


Tak berbeda dengan Pak Didin pertama, Pak Didin kedua juga merupakan guru yang sepenuhnya mendedikasikan kehidupannya untuk ilmu. Ia juga mengabdikan dirinya sejak muda untuk mengajarkan kaligrafi, satu keahlian yang tidak banyak orang memilikinya. Saking ahlinya ia dalam bidang itu dan kiprahnya pada dunia yang ditekuninya tersebut, bukan saja dianggapp sebagai ahli, tetapi orang menyebutnya sebagai maestro. Betapa tidak, ia tidak saja dikenal di dalam negeri, ia pun menjadi dewan hakim (juri) untuk kompetisi kaligrafi tingkat internasional di berbagai penjuru dunia.


Keaktifannya dalam kaligrafi menginspirasinya mendirikan Pesantren Lembaga Kaligrafi Al-Quran (Lemka) di Sukabumi dan Ciputat Tangerang Selatan. Di tempat yang saya sebut terakhir itulah, saya berguru langsung kepadanya. Sebelum itu, saya juga sempat meminta koreksi atas tulisan saya kepada salah seorang santrinya yang pernah menjadi peserta terbaik kaligrafi di dua cabang sekaligus, yaitu Ibu Hj Ery Khaeriyah, yang juga merupakan istri dari guru mengaji Al-Quran saya, KH Muhadditsir Rifai.


Pak Didin tidak saja mencurahkan dunianya untuk kaligrafi, sebagai seorang alumnus Pondok Pesantren Darussalam Gontor dan mengenyam pendidikan tinggi di UIN Syarif HIdayatullah Jakarta, ia juga mengajar di institusi tempat belajarnya itu. Di sana, ia menjadi dosen di program studi Sastra Arab. Bacaannya mengenai sastra sangatlah luas. Dalam suatu video yang dibagikannya, ia menyebutkan sejumlah buku yang sudah ia lahap bahkan tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali.


The last Pak Didin who I want to tell here is a lecturer of English education in Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta. I have been taught by him when I got  scholarship preparation from Ministry of Religious Affairs and LPDP for santri or pesantren academics. Although he taught about IELTS, he not only gave me about how to answer IELTS correctly, but also enreaching my confidence and strengthen my mentality to IELTS, applying PhD and it's scholarship, as well as life in general.


When he taught me, he not only gave what we have to learned, but also deliver suggestions, advices, etc. Therefore, I feel that it is unlike learning, but like a chit-chat in Caffee. Moreover, we have been allowed to drink coffee and eat meals. All of participants brought some meals in the class, as well as coffee. That made our class like a caffee perfectly. Not to mention that his character is so calm while due to it, the message which he conveyed always received by all of us and make us more confident.


I always remember he remain us to keep endeavor. "When we felt for twice, we have to wake up three times," said that professor of English education in every meeting.


This week is last meeting in the course. Eventhough he did not have any meeting with us, Pak Didin came to our class for farewell. As before, he ever said that he want to take photo again with us when we all of participants are attend the class. However, unfortunately we can not gathered completely because two of us had a pivotal agenda and got sick.


Prof Didin sedang bersedakap dan Pak Agus Sufyan di sampingnya.

How did he come to the class? At the first, he sent us greetings through the staff, Ms Yatni, in the group. I responded her by remaining him that he had a promise for taking pictures again. I think, Ms Yatni sent my response to him then we meet again on next day. So, alhamdulillah in the last week, we can meet again with him and strengthening our spirit to face the official test on Tuesday next week.


In the end, I am so grateful to learn and study with him. I got a lot of lessons, not only about English, but also values of life due to his reach experience.


You also could hear his great experience and how he build his dreams to become true from great talkshow, Kick Andy, as well as his podcast with Prof Jajang Jahroni. Please check this out below.


Kick Andy Talkshow 1

Kick Andy Talkshow 2

Prof Jajang's Podcast

Sabtu, 29 Agustus 2020

Syakir NF

Seperempat Abad Ammar Elt-Batawie


Syakir NF


Tahniah tak terkira untuk karibku, Muhammad Ammar, atas capaian usianya yang sudah genap seperempat abad. Ya, 29 Agustus 1995 lalu, ia lahir dari rahim ibunya.


Mungkin tak terasa baginya, tetiba saja sudah 25 tahun umurnya. Perjalanan 300 bulan begitu singkat manakala ungkapan ulang tahun diiringi kalimat, "Sudah 25 aja."


Ia memang dilahirkan sebagai pemimpin. Fisik yang proporsional dan gaya bicara yang meyakinkan menjadi modal utama penampilannya sebagai seorang yang mampu mengatur segala hal, mulai dirinya sendiri, hingga organisasi dan masyarakat umum.


Tidak ujug-ujug ia demikian. Orang tuanya juga punya andil besar. Darah kepemimpinannya mengalir dalam dirinya. Sang ayah muncul sebagai ketua RT yang orang-orang enggan mengambil perannya tersebut. Sampai hari ini, jika kita berkunjung ke kediamannya di Jalan Percetakan Negara, persis depan rumahnya menempel plang Ketua RT. Ibunya yang menjadi guru juga tidak lepas menaruh pengaruh kepada putra bungsunya itu.


Secara formal, ia lahir sebagai pemimpin manakala terpilih sebagai Ketua Pondok Pesantren Al-Andalucia, lalu terpilih juga sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren, hingga menjadi Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Jakarta Pusat.


Sebagai karibnya, rekan-rekannya pasti akan mengakui lelaki yang punya gigi kelinci ini sosok yang royal terhadap kerabatnya. Tak sedikit di antara kami yang kerap menginap di kamarnya. Bangun-bangun dibelikan sarapan dan teh manis.


Pernah bermalam di rumahnya untuk persiapan menuju Bali di tahun 2016 akhir. Ia dan Aru Elgete mengantarkan saya ke Bandara Halim Perdanakusuma.


Pernah juga saat esoknya hendak ke Padang pada akhir 2017, ia menjemput saya dengan mobilnya di Ciputat. Lalu, esoknya mengantarkan saya ke Bandara Soekarno Hatta.


Saya juga pernah merepotkannya pada Februari 2018. Saat hendak take off dari Lombok, saya menghubunginya untuk menjemput di Bandara Halim Perdanakusuma untuk langsung mengantarkan saya ke Stasiun Gambir. Pasalnya, pesawat delay beberapa jam sehingga jeda antara mendarat dan waktu keberangkatan kereta ke Bandung sangat tipis. Berkat bantuannya, saya tidak ketinggalan kereta. Pas duduk, saat itu juga kereta melaju ke tujuan.


Kemudian, ia juga membantu saya saat hendak mengikuti konferensi di Chiang Mai, Thailand. Saat itu, saya sudah mendapat Letter of Acceptance dari Christian Conference of Asia sebagai penyelenggara. Namun, saya belum bisa pesan tiket pesawat ke tujuan karena ketiadaan tabungan. Lagi-lagi Ammar menjadi tempat mengadu.


Ia yang baru merampungkan tugasnya dari panitia Asian Games pun mudah saja mengabulkan permintaan saya. Ia tidak mengirim saya uang, tapi langsung tiket. Malam itu juga selepas ngopi di Raden Saleh, kami pulang ke rumahnya. Di kamarnya, ia langsung memesankan tiket bolak-balik ke Thailand.


Ia juga mengajukan ajakan agar tidak langsung kembali ke Jakarta melainkan transit dulu di Malaysia. Saya pun mengiyakan. Selepas konferensi, saya terbang ke Kuala Lumpur. Di Bandara yang sama, kami jumpa sekitar pukul 11 malam.


Lalu, kami melanjutkan perjalanan ke Singapura pagi dengan menggunakan bus dari Terminal Bersepadu Selatan (TBS). Di imigrasi, kami pun ditinggal bus. Pasalnya, Ammar ditahan entah karena apa. Saya di situ dilema antara nunggu Ammar atau lanjut ke bus. Saya pikir, bus mengerti ada dua penumpangnya yang belum kembali. Tetapi tak lama Ammar keluar kami bergegas ke parkiran, betul saja dugaan kami, bus sudah melaju lebih dulu. Parkiran imigrasi kosong.


Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, Ammar pun menanyakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan untuk sampai ke Singapura. Kami menanyakan keberadaan tempat penukaran uang. Ternyata tidak ada. Ya, sebab, uang Ringgit kami menipis dan belum menukar Dollar Singapura.


Lalu, kami tetiba saja disuruh naik ke bus. Kami pun tidak langsung duduk, tetapi menanyakan perihal ongkosnya. Seorang ibu-ibu peranakan Tionghoa memberi isyarat tidak perlu dipikirkan. Ia rupanya membayarkan ongkos untuk kami.


Kami pun duduk tanpa mengetahui arah dan tujuan akhir bus ini. Saat tiba di tujuan akhir, kami pun turun. Kami mengetahui itu tujuan terakhir karena semua penumpang turun.


Selepas keluar dari bus tersebut, mata kami tercengang karena langsung menemukan sebuah masjid. Di situ, kami mandi dan mengglonggong serta mengisi botol minum. Ya, area publik di Singapura menyediakan air minum di kran secara gratis. Kami dapat meminumnya dengan gelas yang disediakan atau mengisi botol minum sendiri.


Kami mengunjungi patung Merlion, kemudian sedikit berguling-guling di Taman Victoria, dan mengakhiri perjalanan kami di Singapura dengan berziarah ke makam Habib Noh.


Dari situ, kami kembali ke Kuala Lumpur, tidur sejenak di masjid. Kemudian menginap di hotel seharga Rp180 ribu/malam. Dan terakhir menginap di bandara. Kami juga berkunjung ke ibukota Putrajaya, lalu menemui putri kiai kami di Universitas Putra Malaysia.


Selain itu, kami juga menghabiskan sebagian uang di Jalan Petaling. Di sana banyak ditemukan barang-barang dengan harga murah. Saya beli kaos, gantungan kunci, tas, san lainnya di sana.


Semua itu saya peroleh dengan uang pinjaman dari Ammar. Ya, begitulah dia royalnya terhadap kami kawan-kawan karibnya.


Saya pun mengangsur pinjaman itu hingga delapan bulan, dari Oktober 2018 sampai Juni 2019. Sebetulnya, saya pikir utang saya kepadanya masih ada. Tapi, ia mencukupkannya. Dianggap lunas begitu saja.


Sebelumnya, kami juga belajar bahasa Inggris bareng di Pare, Kediri pada Maret 2016. Memanfaatkan waktu libur, kami berkunjung ke bangunan tua di wilayah Pare itu dan berkeliling Jombang, menziarah kiai-kiai kami di Tebuireng, Peterongan, Tambak Beras, dan Denanyar.


Kami berkerabat sejak duduk bareng di Kelas X MANU Putra dan berorganisasi bareng di OSIS dan IPNU MANU Putra. Kami banyak terlibat bersama mengurus kegiatan-kegiatan kesiswaan di madrasah penuh berkah itu. Beruntung saya bersekolah di sana.


Sekali lagi, saya ucapkan selamat ulang tahun. Segala cita semoga lekas tercipta.



Rabu, 18 Desember 2019

Syakir NF

Silaturahim Salah Satu Kunci Pintu Rezeki

Penulis saat di Asakusa, Tokyo, Jepang.

Syakir NF

Saya meyakini betul bahwa silaturahim menjadi kunci yang membuka pintu-pintu rezeki. Setidaknya saya memiliki tiga pengalaman pribadi yang semakin meyakinkan teori tersebut. Maka jika disebut silaturahim memanjangkan umur, saya juga percaya. Sebab, hal itu bukan maksudnya dalam arti umurnya semakin panjang, tetapi dalam arti yang lebih prinsip lagi, yakni membuka jalan rezeki guna melangsungkan kehidupan berkelanjutan.

Hal tersebut sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah bersilaturahim, sebagaimana disebutkan di NU Online.

Baiklah, saya gak hendak menjelaskan hadis tersebut. Hanya sekadar sebagai referensi saja bahwa keyakinan saya itu berdasar. Di sini saya ingin bercerita tiga pengalaman pribadi tentang silaturahim sebagai kunci pembuka pintu rezeki.

Ceritanya, Februari 2019 lalu, alhamdulillah saya bisa main-main ke Jepang berkat lolos seleksi program Jenesys batch 23, sebuah ajang konferensi pelajar Jepang, Asia Tenggara, dan Timor Leste. Di sana, kami membicarakan enam tema, saya mendapat tema tentang Lansia.

Tapi dalam tulisan ini saya tidak membahas bagaimana konferensi itu berlangsung. Sebagaimana tercantum di judul, saya akan cerita tentang sebuah keyakinan bahwa rezeki itu gak bakal lari dari pemiliknya.

Sampai hari H-1 keberangkatan saat karantina, saya hanya pegang uang Rp 200 ribu. Persoalan tiket dan makan memang sudah ditanggung oleh pihak panitia. Tapi untuk sekadar jajan atau beli buah tangan, tentu uang segitu merupakan jumlah yang sangat tidak cukup.

Jangankan sampai di Jepang, di tempat penukaran uang (money changer) saja (mungkin) belum bisa berganti menjadi Yen karena memang ada batasan minimal dalam penukaran tersebut karena ada keterbatasan jumlah uangnya yang tidak sampai ke 'receh-receh'.

Minta-minta ke orang tua sudah bukan lagi waktunya. Saya malu karena mestinya juga saya yang sudah berkeharusan membantu mereka. Apalagi sampai hutang-hutang, saya sangat tidak berani hanya untuk perkara skunder atau bahkan mungkin tersier ini. Akhirnya, saya pasrah sepasrah-pasrahnya. Saya siap berangkat ke Jepang dengan hanya berpegang Rp 200 ribu itu.

Di H-1 keberangkatan, saya dihubungi oleh seorang rekan. Dia meminta saya untuk menghubungi salah satu guru kami yang juga dosen di salah satu kampus ternama. Karena ini perintah untuk menghubungi guru, maka langsung saya turuti saja. Saat itu, saya tengah karantina di sebuah hotel di Blok M.

Beliau pun menanyakan keberangkatan saya ke Jepang, kapan dan berapa hari di sana. Usai saya mejawab pertanyaan tersebut, beliau menyampaikan hendak menitip sesuatu yang khas Jepang. Belum tahu apa yang hendak beliau titipkan kepada saya, sudah ada transferan masuk ke rekening saya pada malam hari.

Siang hari esoknya, transferan tersebut langsung saya tarik dari Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan ditukarkan ke tempat penukaran uang terdekat. Alhamdulillah, saya beruntung masih mendapat bagian uang Yen. Beberapa rekan yang terlambat harus menggigit jari.

Usai menukar, beliau mengabarkan dua barang yang diinginkan, yakni  2 kotak Koyo Jepang Tokuhon isi 140 dan 6 kotak Biskuit Tokyo Milk Cheese Factory isi 10.

Saya cek harga dua barang tersebut di internet, uang pemberiannya masih sisa lebih sangat banyak. Sisanya itu saya gunakan untuk beberapa keperluan di sana, membeli dua buah kaos, satu untuk saya pribadi dan satu lagi untuk rekan saya yang telah meminjamkan jaket tebalnya untuk saya bawa, dan beberapa biskuit dan cemilan khas Jepang lainnya, serta ongkos bepergian di sana.

Alhamdulillah, berkat itu, saya bisa bersua saudara-saudara saya orang-orang NU di sana. Bisa tahlil bersama mereka. Kumpul bareng mereka laksana melingkari api unggun, hangat di tengah udara Jepang yang begitu dingin. Terlebih sebagaimana di tanah air, usai tahlilan kami makan bareng khas Indonesia pula yang kaya rasa usai menyantap berbagai makanan Jepang yang aneh di lidah. Saya pun membawa pulang makanan tersebut untuk rekan-rekan saya di hotel.

Saya pun matur kepadanya, bahwa saya menggunakan sisa uang yang ada. Saya pun belum bisa mengembalikan sisa uang yang terpakai itu. Ternyata, beliau menyerahkan sepenuhnya untuk saya. Alhamdulillah.

Memang, sebelumnya saya kerap berkunjung ke rumah beliau berbincang lama dari siang hingga petang membicarakan berbagai hal. Saya banyak menyerap ilmu dan pengalaman beliau yang telah melanglang buana. Hehe

Penulis saat di Denpasar, Bali.
Sebelumnya, saya juga pernah mengalami hal yang sama 3 tahun sebelumnya, saat hendak ke Bali. Jangankan untuk oleh-oleh, tiket pun belum terbeli waktu itu. Saya pun matur ke salah seorang paman say,a memohon doa keselamatan dan kelancaran agenda saya ke Bali dalam rangka menghadiri dan mengikuti Rakernas Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia (IMABSII) di Universitas Udayana.

Beliau yang begitu loman itu mengirimi saya sejumlah uang yang sangat cukup untuk bekal di sana. Tentu beliau sangat mengerti kondisi mahasiswa miskin yang menanti cairnya beasiswa.

Saya juga tidak berkunjung hanya sekali itu saja. Di waktu-waktu sebelum itu, saya sering sowan kepada beliau, bahkan menginap di rumahnya. Beberapa kali juga membersamainya ke kantor sekaligus saya pulang ke kosan. Dalam perjalanan itu, saya menyerap banyak ilmu kehidupan darinya.

Penulis di sebuah tempat peribadatan
di Bangkok, Thailand.
Pernah juga saya sampai berhutang ke sahabat dekat untuk membeli tiket bolak-balik ke Thailand. Saya memberanikan diri berhutang karena uang tiket itu akan diganti oleh pihak panitia kegiatan yang saya bakal ikuti itu, yakni Young Ambassador of Peace in Asia (YAPA) 2018 yang digelar oleh Christian Conference of Asia (CCA).

Kebetulan saat itu, sahabat saya baru saja menuntaskan tugasnya mengawal sebuah perhelatan akbar sehingga sedang memiliki banyak tabungan. Pada sebuah malam, saya menyampaikan maksud saya untuk meminjam uangnya untuk keperluan tersebut. Di malam itu juga, ia langsung pesankan tiket untuk saya.

Persahabatan kami bermula saat duduk di bangku sekolah Aliyah. Meski berbeda kampus saat kuliah, tetapi kami semakin akrab. Beberapa kali jumpa untuk sekadar berbincang lepas dan berwisata spiritual dengan ziarah ke wali-wali para ulama di ibukota.

Bisa kita simpulkan, bahwa banyak silaturahim, banyak rezeki. Tapi rezeki itu bukan sekadar uang belaka. Hal yang paling penting adalah jalinan persaudaraan yang tetap terjaga.

Penulis adalah orang yang tengah belajar gemar bersilaturahim