Our Feeds

Motto

Etik, Estetik, Puitik

Selamat Mengaji

Mengaji Sepanjang Hari

Tampilkan postingan dengan label Aqidah dan Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah dan Akhlak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 November 2018

Syakir NF

Sedekah Tak Usah Pilih-pilih

Sumber: Dream.co.id


Sedekah merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Dalam KBBI, sedekah berarti pemberian sesuatu kepada fakir miskin atauyang berhak menerimanya, di luar kewajiban zakat dan zakat fitrah sesuai dengan kemampuan pemberi; derma.

Sedekah tidak seperti zakat yang wajib diberikan kepada sesama muslim. Sedekah boleh diberikan kepada siapapun, termasuk kepada orang musyrik ataupun kafir. Hal ini ditegaskan Allah dalam surat Al-Insan ayat 8-9.

Ada dua cerita yang melandasi turunnya ayat tersebut. Pertama, kisah tentang salah satu sahabat ansor, Abu al-Dahdah.

Suatu hari, ia tengah mempersiapkan menu buka puasa. Ada tiga orang yang datang kepadanya, yakni orang miskin, orang yatim, dan orang tawanan. Abu al-Dahdah membagi makanan yang sudah siap disantap itu empat bagian, tiga bagian untuk tiga orang di atas, dan satu bagian lagi untuk ia dan keluarganya.

Kedua, kisah dari menantu Rasulullah saw, yakni Sayyidina Ali kw. Ia membagi gandum yang ia bawa menjadi tiga bagian, yakni buat orang miskin, lalu orang yatim, dan yang terakhir tawanan dari orang-orang musyrik. Ketiganya dalam keadaan kelaparan.

Lalu karena ada kisah tersebut, turunlah ayat Al-Quran surat Al-Insan ayat 6-9. Sabab nuzul kedua menunjukkan bahwa dalam berbagi, tidak perlu pilih-pilih. Kepada orang musyrik pun diperkenankan.

(Syakir NF)

Sumber: Tafsir al-Khozin

Tulisan ini pernah dimuat di sini

Syakir NF

Bersihkan Hati dan Niatkan Belajar karena Allah



Sebagai pelajar, kita mesti punya adab yang baik, tutur kata yang lembut, sopan santun terhadap guru, bahkan kepada anak serta keturunannya. Hal pertama yang mesti dilakukan oleh seorang pelajar atau murid adalah mendahulukan membersihkan diri dari buruknya akhlak. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw., buniya al-dinu ‘ala al-nadzafah, agama didirikan di atas kebersihan.

Kebersihan di sini bukan sekadar kebersihan lahir yang dapat terlihat oleh mata. Namun yang lebih penting dari itu adalah kebersihan hati. Hal ini erat kaitannya dengan firman Allah swt. dalam surat al-Taubah ayat 28, innama al-musyrikuna najasun, orang-orang musyrik itu najis.

Najisnya orang musyrik tentu tidak mesti terdapat pada pakaiannya. Mungkin pakaian yang mereka kenakan sangat baik kualitasnya dilengkapi dengan pewangi yang harum. Kenajisan mereka terletak pada hatinya. Selagi hatinya tidak bersih dari kotoran-kotoran, selama itu pula ilmu yang diterima tidak bermanfaat dan tidak mendapatkan cahaya keilmuannya.

Kita tidak boleh punya prasangka negatif terhadap guru sebagai pengajar kita. Terlebih berlaku tidak baik terhadapnya, meskipun hanya mencibir di belakang. Tindakan demikian dapat menolak cahaya ilmu masuk ke dalam hati kita. Sementara itu, Ibnu Mas’ud pernah berkata, bahwa ilmu itu bukanlah sebab banyaknya pengetahuan, tetapi ilmu adalah cahaya yang masuk ke dalam hati.

Sebagian ahli tahkik mengatakan bahwa ilmu akan menolak jika dalam belajarnya bukan dimaksudkan karena Allah. Artinya, ilmu sangat susah untuk didapatkan. Mungkin secara lafal mereka memahami, tetapi substansinya atau hakikatnya, mereka tidak mendapatkannya.

Oleh karena itu, dalam mencari ilmu, kita harus niatkan lillahi ta’ala, karena Allah swt. Selain itu, kita juga membersihkan hati kita dari perkara-perkara negatif yang menghantui, sebab kita akan kesulitan memperoleh hakikat ilmu yang sesungguhnya selagi masih ada hal-hal negatif yang bersarang di hati kita. Mungkin kita bisa mendapatkan ilmu, tetapi kemanfaatannya diragukan. Jika demikian, tentu belajar kita sia-sia saja karena tidak menghasilkan.

*Disarikan dari Mukhtasor Ihyai Ulumi al-Din: al-Mursyid al-Amin ila Mau’idzoh al-Mu’minin min Ihyai ‘Ulumi al-Din li al-Imam Abi Hamid Muhammad al-Ghazali

Syakir NF

Sebelumnya, artikel ini pernah dimuat di sini